Wednesday, August 2, 2023

Review Novel Rebecca by Daphne du Maurier

"Last night I dreamed I went to Manderley again. It seemed to me I stood by the iron gate leading to the drive, and for a while I could not enter, for the way was barred to me."

That is the famous first line of Rebecca, book by Daphne Du Maurier that was released in 1938. I've never read a book by Du Maurier before, and I've never read a book with an unidentified heroine. first a little grating, but I believe the author's has a motive in it. We already knew how the ending in chapter 1, but as soon as we start reading chapter 2, we will start to understand what is happening.

"We can never go back again, that much is certain. The past is still too close to us."

The Unnamed, or the narrator, is a young orphan girl who works as Mrs. Van Hopper's companion while she is on vacation in Monte Carlo. A wealthy Englishman named Maxim de Winter, a widower in his forties, strikes up a friendship with the unnamed narrator, a gullible young woman in her early twenties. She decides to marry him after a fortnight of romance, and after the nuptials and honeymoon, she travels with him to his mansion in Cornwall, the lovely estate Manderley. The narrator later become The New Mrs. De Winter and the mistress of Manderley. 

"We came to Manderley in early May, arriving, so Maxim said, with the first swallows and the bluebells. It would be the best moment, before the full flush of summer, and in the valley the azaleas would be prodigal of scent, and the bloodred rhododendrons in bloom."
There is an evil housekeeper in Manderley named Mrs. Danvers. She didn't like The New Mrs. De Winter, because she devoted to the late Mrs. Rebecca De Winter who died in accident last year.  She makes repeated psychological attempts to undermine the narrator, implying quietly that she will never match Rebecca's charm, beauty, and sophistication. When these things are made, the narrator becomes envious.

Wednesday, October 26, 2022

Review dan Ulasan Novel Down And Out in Paris and London karya George Orwell


"Daerah kumuh Paris memang tempat berkumpul orang-orang eksentrik- orang - orang yang jatuh ke jalur kehidupan yang ter-kucilkan, setengah gila dan tidak lagi mencoba menjadi manusia normal atau wajar. Kemiskinan membebaskan mereka dari tata cara kelakuan biasa, seperti kekayaan membebaskan orang untuk tidak bekerja." 

Buku ini mengajak kita menyelami kemiskinan di tempat yang paling kumuh di Kota Paris dan London.  Buku ini ber-genre realisme-satire atau  lebih tepatnya sosial eksperimen dan filosofi kehidupan melarat. Masih belum bisa dibuktikan kalau buku ini sebagai autobiografi George Orwell. Tapi beberapa events atau kejadian dari buku ini nyata pengalaman Orwell dan dikemas dalam bentuk fiksi. Novel ini menggunakan sudut pandang orang pertama, yaitu sudut pandang penulis itu sendiri, karena tokoh aku di sini tidak diketahui namanya, yang kemudian oleh pembaca disebut sebagai George Orwell.

Realita kehidupan miskin di kedua kota besar Paris dan London tidak berbeda jauh.  Hidup miskin tidak jauh dari kelaparan, kotor dan tidak punya tempat tinggal. Tidak ada lagi yang dipikirkan selain makan untuk hari ini dan tempat tidur untuk malam yang dingin. Tidak memikirkan esok pakai baju apa dan akan pergi kemana. Sebenarnya, saya sudah sering baca novel Emile Zola, kondisi kemelaratan di Paris pada abad 19 sampai abad 20 sudah tidak terlalu asing lagi. Kalau Zola lebih mendramatisir kemiskinan, Justru Orwell menyuguhkan kemiskinan dalam diselingi dengan humor, dan cara-cara menyelesaikan masalah orang miskin yang dibilang cerdik.

Monday, October 24, 2022

Review dan Ulasan Novel Mathilda - Mary Shelley



Warning !!

This novel contains: incest, in love with death and commit suicide, but, I proudly appreciate, 4 stars for Mary whose birthday in late August 30th.

Mathilda, kehilangan ibunya tak lama setelah kelahirannya, tumbuh di bawah perlindungan bibinya sampai usia 16 tahun. Sama seperti ibunya, dia adalah gadis yang cerdas, naif dan cantik. Ayahnya telah berkelana dan mengasingkan diri selama 16 tahun demi menghilangkan rasa sakit dan kesedihan kehilangan istrinya. Setlah kematian bibinya, Mathilda dan Ayahnya hidup bersama setelah 16 tahun tidak pernah berjumpa. Kecantikan Mathilda mulai terpancar setlah ia berusia 16 tahun, kecantikan seperti mendiang ibunya, Diana.

Ketika Mathilda mengetahui tentang cinta ayahnya untuknya merupakan hasrat yang lain bukan sebagai ayah dan anak, kehidupan Mathilda pun tidak akan sama seperti sebelumnya. Setelah kematian ayahnya, Mathilda mengasingkan diri dan hidup sebagai orang yang anti-sosial. Kemudian Mathilda dipertemukan dengan Woodville, ia prihatin akan keadaan Mathilda, dan berusaha untuk menolongnya. 

In the end .... Woodville bukanlah Kesatria dengan baju baja berkilauan, dan Mathilda tidak hidup bersama dengan Woodville sampai akhir hayatnya. Karena novel ini bukan Roman picisan tapi Gothic romance yang sudah kusangka tak akan berakhir bahagia. 

Gaya bercerita Mary sungguh sangaat baguuuus.. this is masterpiece. Walaupun plotnya simpel, tapi Mary tidak pernah kehabisan metafora dan rangkaian kata yang sangat puitis.

Di bawah ini merupakan kutipan-kutipan yang aku suka, sesaat sebelum Mathilda bertemu dengan kematian :

"Sejujurnya, aku jatuh cinta terhadap kematian; kesenangan seorang gadis yang memandangi gaun pengantinya masih kalah dibandingankan aku yang suka membayangkan tubuhku tubuhku telah diselimuti kain kafan: bukankah itulah gaun pernikahanku? Hanya dengan cara itu aku akan bertemu dengan ayahku di tempat batin rohani kami bisa bersatu abadi dan tidak akan terpisahkan selamanya"

"Kau berpaling dariku; tetapi, sebelum kau menolakku, bayangkanlah, Woodville, betapa indahnya andaikan kita bisa menyingkirkan beban air mata dan kesengsaraan yang kita derita saat ini; dan tentu saja kita akan menemukan cahaya setelah kita melewati lembah gelap. Minuman itu akan membawa kita terjun ke dalam tidur yang panjang yang indah, dan ketika bangun kita akan berbahagia karena kesedihan dan ketakutan kita telah usai." 

PS: Ada beberapa kesamaan dari dari novel ini dengan kisah hidup Mary Shelley sendiri. Ibu Mathilda dan Mary sama-sama meninggal pada saat melahirkan mereka, hingga kedekatan Mary dengan ayahnya pun menjadi sorotan bahwa novel ini merupakan semi-autobiografinya.

Rating Ruang Buku Megga  ✬✬✬✬ (4/5)

Judul : Mathilda
Penulis: Mary Shelley
Alih Bahasa: Imanina Resti Sujarwoto
Penerbit: Noktah
Tahun Terbit: 2020 (Pertama kali, 1959) 
Tebal: 229  halaman

Thursday, October 6, 2022

Review dan ulasan sastra klasik Northanger Abbey karya Jane Austen

Northanger Abbey merupakan novel pertama yang ditulis Austen pada tahun 1803, dan diterbitkan pada tahun 1817 setelah kematianya. Novel ini sekaligus novel terakhir yang aku baca dari keseluruhan novel Austen.

Catherine Morland, adalah gadis 17 tahun yang biasa-biasa saja, tidak pintar, tidak mempunyai keahlian khusus yang sungguh tidak cocok untuk menjadi peran utama wanita (heroine).

Catherine bersahabat dengan Isabella selama Bath, Isabella adalah kekasih kakak lelaki Catherine, yang merupakan teman yang suka mengatur dan membosankan. Isabella menjadi dekat dengan Catherine karena sudah dianggap seperti adik ipar. Di Pump-room, Cathrine bertemu dengan Henry Tilney yang menarik perhatianya. Tanpa diduga, Adik Isabella, John Thrope juga menyukai Catherine. Namun, pertemuan dengan Henry lah yang membuat Catherine penasaran, hingga ia berusaha mendekati adik Henry, Eleanor.

Suasana novel ini berubah jadi sedikit horor Setelah Catherine diundang untuk menjadi tamu di kediaman Tilney, sebuah rumah bergaya gothic, bekas biara yang bernama Northanger Abbey. Tapi, setelah itu saya dikejutkan, novel ini banting stir menjadi komedi.

Kesan horor dalam buku ini tidak lain hanyalah imajinasi Catherine Morland yang berlebihan karena sangat menyukai novel gothic romance. Selama ia menjadi tamu di Northanger Abbey, seakan-akan ia menjalani kisah gothic-romance-nya sendiri. 

Lucu sih, dengan kepolosan dan maaf banyak review yang berpendapat bahwa Catherine itu bodoh. Menurutku, Catherine seperti gadis kampung yang baru main ke kota, yang belum beradaptasi dengan kehidupan sosial kelas atas. Novel ini tidak akan selucu itu apabila Catherine tidak selugu itu. Justru menariknya, novel ini pelan-pelan membuka pandangan Catherine terhadap "dunia luar".
Khas novel Austen, pada akhir cerita ada plot twist yang membuat kita menebak-nebak siapakah yang akhirnya bersama dengan tokoh utama cerita ini, dan juga kisah akhir beberapa tokoh lainya. Ada beberapa percakapan dalam novel ini yang bisa dibilang berkualitas, banyak sekali kritik-kritik sosial mengenai novel-novel terdahulu seperti novel-novel gotik karya Ann Radcliff.

Ada beberapa kutipan yang aku ambil dari novel ini:

"Oh! Aku suka sekali dengan buku ini! Aku akan menghabiskan waktuku untuk membacanya. Percayalah, kalau tidak harus bertemu denganmu, aku tidak akan berhenti membacanya.” (Catherine)
"Kita ini orang Inggris, kita ini orang Kristen. Periksa kembali pemahamanmu sendiri, akal sehatmu akan apa yang mungkin, pengamatanmu terhadap apa yang terjadi di sekitarmu. Apakah pendidikan yang kita terima mempersiapkan kita untuk menghadapi kekejaman seperti ini? Apakah hukum kita mengabaikan hal semacam itu? Dapatkah hal-hal itu dilakukan tanpa diketahui, di negara seperti ini, di mana hubungan sosialnya memiliki pijakan yang kuat, di mana setiap warganya dikelilingi oleh suatu lingkungan yang penuh dengan mata-mata sukarela, dan di mana jalan-jalan dan surat kabar bersifat terbuka? Miss Morland yang baik, apa yang selama ini kau pikirkan?” (Henry Tilney )
Sungguh bacaan yang cukup menghibur, dan aku jadi ketagihan baca gothic romance classics. Novel Northanger Abbey merupakan novel yang menjelaskan tentang novel dan membuat aku ingin membaca novel Ann Radcliff.

Rating Ruang Buku Megga : ✭✭✭ (3/5)

Judul : Northanger Abbey
Penulis: Jane Austen
Alih Bahasa: Shinta Dewi
Penerbit: Noura Books (Mizan Group)
Tahun Terbit: 2015 (Pertama kali, 1803) 
Tebal: 354  halaman




Sunday, April 17, 2022

Review Novel Pachinko, karya Min Jin Lee


"Sejarah mengecewakan kita, tapi biarlah"

      
Kutipan tersebut merupakan kalimat awal bab pertama, sekaligus kata pembukaan buku ini yang mencerminkan keseluruhan cerita. Buku ini menceritakan tentang  diaspora 4 generasi etnis Korea, yang lahir, besar dan tingggal di Jepang sebagai kaum  minoritas. 

Generasi pertama di
mulai dengan Kim Hoonie menikahi Yang Jin, dan melahirkan anak bernama Sunja. Mereka mengelola pemondokan di sebuah desa nelayan di Yeongdo, Busan, Korea  pada awal abad ke 20, saat pemerintahan Jepang berkuasa menduduki Korea. Sunja anak satu-satunya mereka setelah Yangjin empat kali keguguran. Sunja sangat dekat dengan ayahnya, namun takdir berkata lain, Hoonie mati muda akibat radang paru-paru. 

Pada awal musim panas, Juni 1932 seorang pastor muda, Baek Isak tiba di pemondokan dan jatuh sakit, Sunja hamil di luar nikah dan jatuh cinta dengan makelar ikan baru bernama, Koh Hansu yang sudah memiliki istri dan tiga putri yang tinggal di Osaka, Jepang. Sebagai balas budi atas pertolongan Yangjin  bersedia merawat Isak semasa sakit dan demi harga diri gadis itu, Pastor Isak bersedia menolong Sunja dengan menikahinya dan membawanya ke Osaka untuk tinggal bersama kaka kandungnya, Baek Yoseb dan istrinya, Kyung Hee. 

Friday, March 18, 2022

Review The Scarlet Letter - Nathaniel Hawthrone

"Simbol itu bukanlah sekedar kain merah yang dicelupkan ke dalam bejana duniawi, tapi merupakan kain merah membara dengan api neraka, dan dapat terlihat menyala-nyala kemana pun Hester Prynne berjalan keluar rumahnya di malam hari"

    Di kota Boston yang masih banyak dihuni kaum Puritan di tahun 1642, seorang perempuan muda bernama Hester Prynne melahirkan seorang bayi bernama Pearl tanpa diketahui siapa ayahnya, sebab suami Hester dipercaya telah mati di laut sebelum ia hamil. Ia dihukum untuk memakai huruf 'A' berwarna merah tua di dadanya sepanjang sisa hidupnya. Huruf A tersebut mempunyai arti "adultery". Ditengah -tengah kerumunan saat Hester berdiri di panggung penghakiman, ia melihat suaminya di tengah kerumunan. Suaminya tersebut mengaku sebagai dokter yang bernama Roger Chillingworth, namun ia tidak mengakui bahwa ia adalah suami Hester. Dalam penjara Hester, suaminya membuat kesepakatan untuk merahasiakan kenyataan bahwa Chillingworth adalah Mr. Prynne, suaminya.
Ada seorang pendeta gereja yang sangat terkemuka di masayrakat New England, yaitu Arthur Dimmesdale. Sampai pada pertengahan buku ini, kita akan mendapatkan beberapa petunjuk bahwa Arthur Dimesdale lah ayah dari anak Hester. Kemudian Roger Chillingworth mencurigai Arthur Dimmesdale yang terlihat alim, maka ia tinggal bersama pastor itu untuk mencoba mendapatkan pengakuanya.

Thursday, December 2, 2021

Review Agatha Christie - Halloween Party

Ariadne Oliver, attending the Halloween party while visiting her friend Judith Butle. The party held at Rowena Drake's home in Woodleigh Common. For Ariadne, this is going to be horrible party ever, because there was the murder happened. The victim named Joyce, thirteen-year-old tells everyone attending she had once seen a murder, but had not realised it was one until later. When the party ends, Joyce is found dead, having been drowned in an apple-bobbing tub. Immediately, Ariadne called out to her friend, the famous detective, Hercule Poirot to investigate the murder and Joyce's claim.

‘We go from the past to the future,’ said Poirot. 

So, Poirot had to investigate a case in the past that might not even have happened, and was just a teenage braggart. As many Woodleigh Commons say, Joyce was a kid who wanted attention, and wanted to look cool in the eyes of Ariadne Oliver, the mystery writer.  with the help of his friend, from retired Superintendent Spence, Poirot begins to investigate cases that occurred in the past,  in which at this time it was most likely that the perpetrators had not yet been brought to justice or were found innocent when tried.

Friday, July 30, 2021

Review The Incredible Journey - Sheila Burnford


Hanya dengan mengandalkan insting, Luath, seeorkor labrador retriver, Bodger, seekor bull terrier tua, dan Tao, seekor kucing siam bermata biru cantik - pergi melakukan perjalanan luar biasa ke barat menuju rumahnya. Mereka melakukan perjalanan 300 mil jauhnya melalui hutan belantara Kanada untuk bertemu tuannya, keluarga Hunters. 
Karena Keluarga Hunters sedang bepergian ke London, peliharan mereka dititipkan kepada kerabatnya John Longride.

Sungguh perjalanan yang luar biasa bagi mereka yang sebelumnya merupakan anjing dan kucing rumahan. Namun berkat kecerdikan Tao, keberanian Luath dan ke-kaleman Bodger, mereka pun berhasil melakukan perjalananya sampai ke rumah. 

Review Novel Klasik Petualangan Bambi, Life in The Woods - Felix Salten


Novel-Fabel yang menceritakan tentang kehidupan alam liar dengan tokoh utama seekor rusa bernama Bambi. Seiring bertambahnya usia Bambi, ibunya mulai meninggalkannya sendirian. Kemudian ia bertemu dengan Dia (Manusia) dengan senapan berburunya yang kerap memburu bambi dan teman-temanya. Hingga pada akhirnya ia memilih hidup sendiri karena tidak tahan melihat kerabat sejenisnya mati diburu.

Membaca novel ini, menumbuhkan perspektif baru-ku terhadap hewan, salah satunya menumbuhkan rasa empati. Aku bukanlah seorang vegetarian atau benar-benar Animal Defender, tapi setelah membaca ini aku bisa lebih merasakan empati terhadap hewan-hewan yang tak berdaya yang masih membutuhkan uluran tangan manusia. Kita tidak bisa lari dari hukum alam. Manusia berburu rusa di musim dingin karena kebutuhan untuk makan dan bertahan hidup. Rusa/ Bambi sebagai mangsa juga ingin bertahan hidup. Dengan keterbatasan mereka, mereka terus berlari dan bersembunyi dari si Dia.

Friday, May 21, 2021

Review The Lost World - Arthur Conan Doyle

Pertama kali aku mengenal Conan Doyle, tentu saja lewat novelnya yang berjudul Sherlock Holmes. Aku masih beranggapan bahwa Conan Doyle merupakan penulis yang sangat genius yang telah menciptakan Holmes yang sampai saat ini masih menjadi ikon
Pop Culture. Setelah habis novelnya Sherlock, aku pun penasaran dengan karyanya yang lain di luar Sherlock Holmes. Ada beberapa kumpulan cerita yg berjudul The Tales of Terror and Mystery, kemudian yang paling menarik perhatianku adalah buku tentang Dunia yang hilang atau The Lost World ini. Sekilas buku ini mempunyai kesamaan judul dengan sub judul buku karya Michael Cricthon, Jurrasic Park 2: The Lost World, yg sama- sama juga berlatar tempat di Amerika Selatan. Mungkin, Jurrasic Park 2: The Lost World nya Cricthon terinspirasi dari karya Doyle ini.

Kisah petualangan ini diliput oleh Edward Malone, seorang wartawan muda untuk Daily Gazzete. Ia mempunyai misi dari atasanya, McArdle untuk membujuk
Professor Challenger, seorang ilmuan zoologi terkenal, menceritakan apa yang telah ia temukan di Amerika Selatan karena publik masih belum mengetahui eksepdisi tersebut tepatnya di mana dan hanya menceritakan dengan samar-samar. Sampai saat ini belum ada seseorang yang berani mewawancarai Professor Challenger mengenai hal itu. 

Edward Malone dengan tekad sekuat baja, juga untuk mengesankan wanita pujaanya yang meinginkan seorang Lelaki yang pemberani dan mampu melakukan hal-hal hebat, ia pun memberanikan diri menemui Professor Challenger. Ia mengekstraksi janji kerahasiaan informasi, dan akhirnya Prof. Challenger mengungkapkan bahwa dia telah menemukan hewan purbakala sejenis dinosaurus hidup di Amerika Selatan. Menindaklanjuti ekspedisi yang seblumnya oleh penjelajah Amerika yang sekarang sudah meninggal bernama Maple White.

Karena Pada pertemuan publik, Prof. Challenger mengalami ejekan dari sainganya Prof. Summerlee dan dianggap mengada-ada mengenai apa yang ia temukan di Amerika Selatan, Ia langsung menantang Prof. Summerlee memverifikasi penemuan tersebut dengan melakukan ekspedisi langsung ke Amerika Selatan. Maka, berangkatlah Professor Challenger bersama Edward Malone sebagai reporter sukarelawan, Profesor Summerlee yang akan menjadi saksi sesama Zoologi, dan Lord John Roxton, seorang bangsawan petualang yang telah berpengalaman, ke Amerika Selatan, ke pedalaman hutan Amazon, ke dunia yang hilang.

Dalam sejarahnya, Hutan Amazon, Amerika Selatan banyak sekali memikat para penjelajah untuk menjelajahi seluruh bagian Amazon. Tak jarang para penjelajah itu tidak kembali, dikarenakan berbagai hal yang masih dianggap misteri. Satu penjelajah meninggalkan jejak untuk penjelajah selanjutnya supaya meneruskan penjelajahanya. Seperti yang dilakukan Professor Challenger dalam cerita ini. Ibaratnya tak peduli ia gugur dalam penjelajahanya, yang penting ia bisa menjadi inspirasi bagi para penjelajah lain untuk melanjutkan obsesinya.

Ada satu hal yang tidak aku setujui mengenai penjelajahan Prof. Challenger ini. Dalam petualanganya, mereka menghadapi manusia kera pintar sejenis pithecanthropus yang sering kali menyerang mereka karena menganggap mereka sebagai pengganggu 'rumah mereka', yang akhirnya mereka menumpas semua manusia kera ini. Somehow related to Darwin's Theory tentang evolusi dan Hukum Alam. Manusia dari Inggris ini bisa disebut sebagai superior karena mempunyai peralatan dan senjata canggih. Mengapa harus memusnahkan semuanya ? tentu saja untuk dianggap sebagai pahlawan bagi penduduk lokal yang masih primitif yang memang juga terganggu oleh keberadaan manusia kera tersebut yang sering kali membunuh penduduk lokal. Sekali lagi manusia berada di puncak rantai ekosistem.

Kalau kalian kira buku ini bakalan seperti Jurassic Park, kalian salah. jenis dinasaurus yang muncul tidak banyak. Hanya ada beberapa seperti Iguanodon, pterodactyl dan stegosaurus yang memang saat itu para spesies tersebut diambang kepunahan, yang tersisa hanya jenis-jenis herbivora.

Buku ini direkomendasikan bagi pembaca yang seoenang dengan novel petualangan klasik yang sedikit dibumbui fiksi ilmiah. Sepanjang perjalanan membaca buku ini, aku tidak harus direpotkan dengan berbagai penjelesan sains. Namun sayangnya, novel ini agak sulit dicari versi terjemahnya, pembaca sepertinya mesti berburu buku ini di toko buku bekas. Tapi kalaupun ada yang berminat membaca dengan bahasa aslinya, bisa baca atau dowload versi epub di Website Project Gutenberg.

Selain sulit dicari, memang buku ini tidak seterkenal Sherlock Holmes, bahkan menurut survey saya di Goodreads, rating buku sekuel dan ketiganya tidak terlalu bagus, bahkan mungkin kurang terkenal dibandingkan Sherlock Holmes. Sepertinya banyak pembaca yang berhenti di buku pertama, seperti saya.
Sir Arthur Conan Doyle pernah mengatakan,
“If in 100 years I am only known as the man who invented Sherlock Holmes then I will have considered my life a failure.”

atau dalam bahasa indonesianya: 

 "Jika dalam 100 tahun saya hanya dikenal sebagai orang yang menemukan Sherlock Holmes maka saya akan menganggap hidup saya gagal."

Sepertinya pembaca Indonesia lebih sedikit mengenal Professor Challenger dibandingkan Sherlock Holmes Pak Doyle. Atau mungkin mereka lebih menikmati adaptasi film dari buku ini? Ternyata The Lost World ini sudah 7 kali dibuat adaptasi layar lebar dari tahun 1925 hingga terakhir tahun 2005 dan beberapa adaptasi Telvisi. Tenang Pak Doyle, anda tidaklah seorang yang hidupnya gagal, bila dilihat kepopuleran Prof. Challenger dalam western culture sepertinya ide cerita ini bisa dibilang sukses.  

Kembali ke buku, sebenarnya saya tidak ingin menyalahkan gaya berceritanya yang terlalu banyak narasi sehingga membuat saya mengantuk, mungkin faktor kekurangan energilah (biasa baca malam dengan sedikit energi yang tersisa) yang menjadi penyebabnya. Tentu saja ini mempengaruhi kualitas membacaku. Azzz andai saja keseharianku hanyalah rebahan dan duduk manis membaca.

Selain itu, saya agak ganggu dengan penempatan kata plato yang merujuk ke dataran tinggi yang ada di Amazon tersebut. Mungkin maksudnya plateau, aku tidak tahu kalau terjemahan plateau menjadi plato. Plato bukanya filsuf Romawi ya? tapi memang sih ketika lihat di google translate pronounciation untuk plateau dibaca atau diucapkan menjadi plaˈtō. Tapi, dengan menggunakan plato sebenarnya lebih simple dibanding menggunakan kata dataran tinggi.

Kalau buku dengan genre fiksi ilmiah dan petualangan seperti ini, review jadi melebar kemana-mana. Sangat menarik untuk dianalisis. Review ini saya posting bertepatan dengan ulang tahun Sir Arthur Ignatius Conan Doyle yang ke 162 tahun. 


Rating Ruang Buku ✭✭✭ (3/5)
Judul : The Lost World (Professor Challenger #1)
Judul Terjemahan: The Lost World
Penulis: Arthur Conan Doyle
Alih Bahasa: An Ismanto 
Penerbit: Indoliterasi
Tahun Terbit: 2013 (Pertama kali, 1912) 
Tebal: 304 halaman

Most Viewed